Rabu, 26 Juni 2013

FF Princess Moon Shoot 2 Part Ending


Tittle          :         Princess Moon
Genre        :         Fantasy, sad
Rating       :         13+
Leght         :         Two shoot
Cast           :  -      Sora a.k.a Luna
                                                                      -      Ryu
                                                                      -      Sena
                      -      Kyu
Disclamer :          Ini adalah bagian akhir dari FF-ku. Seperti kata pepatah, tiada gading yang tak retak, maafkan aku jika sekiranya FF ini jauh dari kesempurnaan. Kepada pihak yang ikut terlibat, aku mengucapkan banyak terima kasih. Setelah FF ini selesai, aku akan mengubur semua kenanganku yang telah menjadi bagian dari masa laluku.


^^Happy Rading^^






Ryu POV

“Sena.. Sena..  Kau kah itu?”, panggilku dari kejauhan.

Itu seperti Sena. Ah.. Sena.. Semuanya telah berakhir. Maafkan aku karena telah mengecewakanmu, Sena.

“Ryu? Kau mendengarku? Ayo, kemarilah Ryu”

Dengan cepat aku berjalan kearah Sena. Tapi… Siapa itu? Itu bukan Sena! Itu.. Sora…? Orang yang menghilang dariku selama ini. Tapi, mengapa ia menatapku seperti itu? Mengapa ia menangis?

“So-Sora!”, panggilku.

Dengan cepat aku berlari ke arahnya. Tapi seketika Sora hilang begitu saja.

Perlahan kubuka mataku. Kulihat Sora, ah tidak maksudku wanita jelek yang juga bernama Sora itu duduk disampingku.

“Tuan? Apa kau sudah sadar? Kau pasti lapar kan? Sebentar, aku bawakan makanannya dulu”, katanya lalu bergegas pergi ke dapur.

Selintas terbayang di benakku tentang kejadian di taman pada waktu itu. Tak lama kemudian si buruk rupa itu datang dengan membawa segelas susu hangat dan sepotong roti cokelat.

“Ini.. Makan..”

“AAAA!! Jangan menyentuhku! Kau sudah menggagalkan semuanya! Kau tahu jika butuh waktu berbulan-bulan untuk menyembuhkan luka ini! Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!”, teriakku sambil membuang semua makanan yang ia berikan padaku.

“Prang”, semua pecahan gelas dan piring berserakan di lantai.

Dia hanya duduk terdiam. Terlihat air mata mengalir dipipinya dan menetes ke lantai.

“Aku tahu jika aku salah. Aku benar-benar minta maaf. Tapi, tidak seharusnya kau membuang makanan itu! Kau tahu?! Demi sepotong roti aku dan para pelayan lainnya harus bekerja keras melayanimu dan keluarga istana! Kau kejam! Apa seperti ini seorang Pangeran?!”, ucapnya sambil terisak.

Dengan cepat ia berlari pergi dari kamarku.

“Kau kejam! Apa seperti ini seorang Pangeran?!” kata-kata itu terus terngiang di telingaku.




Sora POV


“Hiks.. Apa harus dia sekasar itu padaku? Hiks”, ucapku sambil terisak.

Selintas terbayang di benakku tentang rekaman masa lalu saat aku masih suka bersikap seenaknya pada para pelayanku. Begitu menyakitkan rasanya.

“Pasti begini juga yang mereka rasakan”

Aku benar-benar kejam telah membuat semua pelayanku kabur dari istana.
Ayah, maafkan aku..

“Miaw”, tiba-tiba datang seekor kucing berjalan terhuyung-huyung ke arahku. Terlihat banyak darah yang melumuri tubuhnya. Ini kucing yang kulihat pertama kali saat aku turun ke bumi, kan? Mengapa ia bisa jadi seperti ini?

Tiba-tiba kucing itu jatuh tersungkur ke tanah. Dengan cepat aku menghampirinya.

“Kasihan sekali kucing ini”, kataku sambil mengusap tubuhnya.

Ayah… Maafkan aku.. Tapi untuk kali ini aku harus menggunakan kekuatanku.
Kuletakkan telapak tanganku di atas tubuh kucing itu. Perlahan, energi yang ada di dalam tubuhku keluar melalui tanganku. Satu persatu luka di tubuh kucing itu menghilang dan kembali seperti semula.

“Miaw”, kata kucing itu sambil berusaha bangun.

Dengan gembira, Ia pun menjilat tanganku.

“Kau mau berterima kasih ya? Hihihi”, ucapku sambil mengelus kucing tersebut.

Tiba-tiba terlihat pancaran cahaya keluar dari tubuhku. Perlahan kulit kasarku berubah
menjadi halus seperti semula.

“Ayah, inikah yang kau maksud? Terimakasih ayah”, kataku sambil menatap ke arah langit.




3 bulan kemudian…



Ryu POV

                3 hari lagi adalah hari pernikahanku dengan Sena. Entah mengapa, Sena sedikit berubah beberapa hari ini.  Tapi, sudahlah.. Aku tidak mau memikirkan hal yang macam-macam. Aku hanya akan fokus pada pernikahanku 3 hari lagi.

                Di jalan yang kulalui ini, tergambar jelas kejadian 3 bulan lalu di hari pernikahan aku dan Sena. Tapi semuanya gagal dan harus diundur sampai lukaku sembuh. Pada waktu itu aku masih ingat saat bahuku tertancap busur panah karena berusaha untuk menyelamatkan wanita jelek yang  sedang ada di sebelahku ini. Saat itu aku benar-benar kesal padanya. Tapi, ya sudahlah.. Karenanya jugalah aku bisa sedikit berubah. Ia mengajarkanku tentang arti tanggung jawab.

“Tuan.. Kudengar beberapa bulan ini kau sibuk membagikan makanan kepada rakyat miskin di pasar? Lalu, apa kau juga yang membagikan makanan padaku dan para pelayan lainnya?”, Tanya wanita jelek itu padaku. 

Hah? Dari mana dia tahu tentang itu? Tidak! Dia tidak boleh tahu jika sebenarnya dialah yang telah merubah semua pandanganku.

“E.. Ti.. Dak.. Aiss!! Kau berlebihan! Aku hanya memberi makanan murah kok. Itu sangat mudah bagiku”
“Iya.. Tapi makanan ini tetap terlihat mahal di mata para rakyat miskin itu.. Hmm.. Apapun, terimakasih ya..”, katanya sambil tersenyum.

Senyuman ini.. “Dag.. Dig… Dug..” Kenapa jantungku? Tidak! Tidak mungkin!

“Ah.. Sudahlah! Aku mau pergi. Terserah kau mau ikut atau tidak”, kataku lalu bergegas pergi darinya.
“Iya.. Aku ikut Tuan!”, katanya lalu bergegas menyusulku.

                Di tengah perjalanan, aku melihat suatu tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Entah mengapa, hatiku seperti menyuruhku untuk masuk ke dalam sana. 

Indah sekali… Aku belum pernah melihat tempat seindah ini.. Dan.. Apa yang terlihat di depan mataku?
Kak Kyu dan Sena, berciuman?

Tiba-tiba Sora berdiri di depanku dan menutup semua pandanganku. 

“Ayo kita pulang, Tuan”, katanya sambil memegang tanganku.
“Tidak! Aku tidak mau!”, Teriakku sambil menghempaskan tangan Sora.

Dengan penuh amarah aku menghampiri mereka berdua.

“Ryu… Ini tidak seperti yang kau bayangkan”, Elak kak Kyu berusaha memberi pengertian padaku.
“AAAAA!!!! Apa.. Apa maksud semua ini kak? Ayo! Jelaskan padaku!!!”, teriakku padanya.
“Ryu..”, kata Sena dengan perasaan bersalah.
“AAA!!! Jangan sentuh aku! Kak, kenapa kau tega melakukan ini semua padaku? Apa salahku padamu? Aku bahkan sudah menganggapmu sebagai kakak kandungku sendiri”, ucapku sambil terisak.
“Maafkan aku, Ryu.. Aku terlambat mengatakan semuanya padamu”
“Maaf? Kau bilang maaf? Kau pikir dengan kata maaf semua lukaku akan hilang begitu saja, hah? Tidak! Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan kalian!”

Dengan cepat aku pergi meninggalkan mereka.
Dasar penghianat! Aku tidak akan memaafkan kalian!

Langkahku terhenti saat kulihat sepasang kaki menghalangi jalanku.

“Ryu”, ucap Sora lalu memelukku.
“Dag.. Dig.. Dug..” Kenapa jantungku tiba-tiba jadi begini? Tidak! Tidak mungkin! Tidak bisa!
“Jangan sentuh aku! Pergi dari hadapanku!”, kataku sambil mendorongnya hingga jatuh tersungkur.

Perlahan ia mulai menangis dan terisak.

Apa aku terlalu kasar padanya? Kenapa rasanya sampai seperti ini?

“Ryu.. Aku pikir kau sudah kembali seperti Ryu yang dulu. Ternyata tidak! Kau bahkan tidak pernah melihatku meskipun aku selalu berada di dekatmu!”

Dengan penuh kekecewaan, Sora pergi meninggalkan diriku yang masih terdiam tanpa bisa berkata apapun.

“Tidak.. Kau salah.. Aku melihatmu, hanya saja aku tidak mengakuinya”, jawabku di dalam hati.


1 tahun kemudian

Sora POV

                Hari ini  seperti biasa setelah mendapat sepotong roti aku pergi ke hutan lalu duduk di samping setangkai daun talas. Walaupun setiap hari selalu datang kesini sekalipun aku tidak pernah melihat Ryu ada disini. Apa dia sudah benar-benar lupa dengan semuanya ya?

                Tak terasa sudah satu tahun lebih aku berada di bumi. Selama setahun ini, aku telah belajar banyak tentang arti ketulusan dan rasa tanggung jawab. Sekarang aku sudah terbiasa untuk selalu rajin bekerja dan tidak membuang makanan. Mungkin saat ini dari langit ayah sedang tersenyum melihat perubahanku. Ya, pasti ayah bangga padaku.

                Dari kejauhan terlihat seorang anak kecil dengan langkah takut berjalan ke arahku. Pasti dia anak kecil yang waktu itu menangis karenaku. Saat melihatku berdiri, tiba-tiba anaik itu berbalik badan dan melangkah pergi. Dengan cepat aku berlari mengejar anak tersebut. 

“Permisi”, panggilku.

Dengan penuh ketakutan anak itu membalikkan badannya lalu melihatku.

“Apa kau mencariku? Ada apa?”, tanyaku penasaran.
“Itu”, ucapnya sambil menunjuk kearah sepotong roti yang ada di tanganku.

Bagaimana ini?Jika aku memberi roti itu padanya, berarti aku tidak bisa makan hari ini. Tapi, dia terlihat kurus sekali. Dia pasti lebih membutuhkan ini dari pada aku.

“Kau ingin roti ini? Ambilah”, kataku sambil memberi sepotong roti ke arahnya.
“B-benarkah? Terimakasih!”, ucapnya dengan wajah penuh kegembiraan. 

Dengan cepat ia berlari, dari arah kejauhan ia melambaikan tangan padaku.

“Sama-sama”, ucapku sambil membalas lambaian tangannya.

                Tak lama kemudian, terlihat pancaran cahaya memancar dari tubuhku. Perlahan rambutku yang kusut berubah menjadi halus seperti semula. Sekarang, penampilanku terlihat hampir sempurna seperti dulu.
Kepada ayah.. Terimakasih..

@Istana

“Huh, capeknya..”, ucapku sambil duduk  di tepi lantai. 

                Seperti biasa setiap sore aku bertugas menyapu di halaman belakang. Cukup meletihkan memang, tapi setidaknya aku bisa bebas melakukan apapun disini.

                Setiap selesai menyapu, pandanganku pasti mengarah pada sebuah gudang yang ada di depan sana. Aku selalu penasaran dan ingin melihat sesuatu yang ada di dalamnya. Tapi, setiap aku bertanya tentang itu pada Ibu Kepala Pelayan, dia pasti memarahiku dan melarangku untuk masuk ke dalam sana.

                Rasa penasaranku memberiku keberanian untuk masuk ke dalam gudang. Perlahan kubuka pintunya. Wah..  Disini banyak sekali barang-barang istana. Dan.. Ini.. Ini biola yang waktu itu Ryu mainkan, kan? Mengapa ia tidak pernah memainkannya lagi? Padahal aku selalu merindukan alunan lembut itu. Bagiku, itu adalah alunan paling indah yang pernah aku dengar.

                Mataku beralih pada sebuah Harpa tua yang tergeletak di depanku. Aku sangat ingat, dulu saat aku masih berada di bulan aku sering sekali memainkannya di waktu renggangku. Dengan hati-hati kuangkat harpa tersebut dan mulai memainkannya.




Ryu POV


“Capeeek”, keluhku di dalam hati.

                Hari ini memang cukup menyibukkan bagiku. Sepanjang siang aku hanya sibuk menyambut orang-orang dari luar negeri yang berkunjung ke negara kami. Tapi, bagaimana kalau mereka mencariku lagi? Tidak! Aku harus kabur! Ke tempat yang jauh dari keramaian! Aha! Di halaman belakang!

                Dengan cepat aku berjalan menuju halaman belakang istana. Dari jauh terdengar alunan music yang sangat indah.

“Siapa yang memainkannya?”, tanyaku dalam hati.

Firasatku menuntuku kearah gudang. Perlahan kubuka pintunya. Dari jauh terlihat seorang wanita cantik sedang duduk di atas kursi sambil memetik senar-senar harpa. Tapi, bukankah wanita cantik itu Sora? Ah, tidak, maksudku si buruk rupa itu? Bagaimana bisa dia berubah menjadi seperti itu?

“Dag.. Dig.. Dug…” Tiba-tiba jantungku berdetak tak beraturan. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku harus pergi!




Sora POV


                Perlahan kumainkan harpa yang ada di tanganku. Jari-jariku menari mengikuti alur, membentuk alunan lembut. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang langkahnya terhenti di depan pintu. Sepertinya dia Ryu. Ketika kuhentikan permainanku, dia langsung berbalik badan dan pergi meninggalkan gudang. Dengan cepat aku berlari menghampirinya.

“Ryu?”, panggilku. 

Iapun berhenti.

“Ada apa? Kau mencariku?”
“T-tidak”
“Lalu, kalau bukan mencariku untuk apa kau kemari?”
“Sudahlah! Jangan bermimpi! Aku tidak mungkin mencarimu!”, ucapnya lalu pergi meninggalkanku.

Aneh… Sejak kejadian itu dia seperti ingin menjauhkan diri dariku. Ryu? Ada apa? Apa kau begitu membenciku? Apa kau tidak ingin melihatku ada disini lagi?”




Esok harinya….



Sena POV


                Angin sore menyapu dedaunan di jalan, memberi hawa sejuk di tengah panas terik matahari.

“Tumbuhlah wahai bunga-bungaku yang cantik”, kataku sambil menyiram bunga-bunga yang ada di halaman depan rumahku.
“Sena!”, panggil ayah dari kejauhan.

Akupun menghentikan pekerjaanku lalu berlari menemui ayah.

“Iya, ada apa ayah?”
“Tolong antarkan buah kiwi ini ke istana. Ingat, kau harus memberikannya langsung kepada Pangeran, mengerti?”
“Tapi ayah…”
“Jangan banyak alasan! Bukankah kau sudah menggagalkan semua rencana ayah untuk menikahkanmu dengan Pangeran? Sampai kapan kau harus terus menentang ayah? Cepat! Turuti saja apa kata ayah!”

                Ayah, mengapa kau menyuruhku mengantarkan ini pada Ryu? Tak tahukah kau betapa malunya aku padanya? Tapi, jika aku menolak, ayah pasti akan kecewa lagi padaku.

“Baiklah”, ucapku terpaksa.

Dengan sedikit rasa takut aku berjalan menuju istana. 

“Tuan.. Tolong katakan pada Pangeran Ryu jika aku ingin berbicara padanya”, kataku pada  salah satu penjaga istana.

Tak lama kemudian Ryu datang dengan ekspresi wajah kesal. Mungkin dia masih marah denganku. Aku mengerti, siapapun pasti akan marah jika cintanya dihianati. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku juga tidak bisa terus berbohong pada Ryu jika sebenarnya aku hanya mencintai Kak Kyu.

“Ada apa?”, tanya Ryu dengan wajah sebal.
“Ayah menyuruhku memberikan ini padamu”, kataku sambil memberi sekeranjang buah kiwi padanya.

Dia terdiam sejenak. Perlahan, ekspresinya berubah menjadi lebih santai.

“Ryu.. Maaf..”, kataku dengan penuh perasaan bersalah.
“Sudahlah.. Aku tidak ingin mengingatnya lagi. Jangan meminta maaf, ini juga salahku karena tidak pernah bertanya padamu tentang perasaanmu”, katanya sambil mengambil sekeranjang buah kiwi yang kuberikan.
“Hmm.. Ryu.. Terimakasih”, kataku sambil tersenyum.




Ryu.. Terima kasih karena telah memaafkanku. Terimakasih karena tidak membenciku. Aku pasti akan menebus kesalahanku suatu saat nanti.




Ryu POV


                Setelah menerima sekeranjang buah kiwi dari Sena, aku berjalan menuju ke taman di depan istana. Selintas terbayang di benakku saat Kyu dan Sena berciuman di depan mataku sendiri. Cukup menyakitkan memang, tapi ya sudahlah.. Mungkin sejak waktu itu Tuhan telah memberitahuku bahwa sebenarnya aku dan Sena memang tidak ditakdirkan bersama. Ini semua karena si buruk rupa itu.Karenanya aku bisa bersikap lebih sabar dan ikhlas atas semua yang terjadi pada diriku.

                Dari jarak yang tidak begitu jauh aku melihat wanita jelek itu sedang duduk santai sambil menyelonjorkan kaki.

“Dag.. Dig.. Dug..” Tiba-tiba jantungku berdetak tidak beraturan lagi. Dengan cepat aku melangkahkan kaki untuk pergi dari sini.
“Ryu”, panggilnya saat melihatku bergegas pergi. 

Tanpa menghiraukan panggilannya aku mulai melangkahkan kakiku lagi.

“Ryu?! Sampai kapan kau harus menjauhiku seperti ini?!”, katanya dengan suara sedikit terisak.
“Apa urusanmu?! Apa yang kulakukan itu terserahku!”, kataku lalu bergegas pergi meninggalkannya. 
 
Saat aku berjalan, tiba-tiba ada sesuatu yang menyandung kakiku. 

“Tolong, jangan jauhi aku seperti ini”, katanya sambil membantuku untuk berdiri.
“Kenapa?! Kenapa kau menolongku?! Pukul saja aku! Bukankah aku selalu  bersikap buruk padamu?! Mengapa?! Mengapa kau tetap bersikap baik padaku?! Kenapa tidak pernah sekalipun kau marah padaku?!”, teriakku sambil melepaskan genggaman tangannya.
“Karena aku bahagia saat bersama Ryu”, katanya sambil tersenyum padaku.

                Perlahan air mata menetes ke pipiku. Dengan cepat aku mengusap air mataku san berusaha menutupinya.

“Ryu? Buah apa itu? Boleh aku minta satu?”, katanya lalu mengambil satu buah kiwi di keranjang yang kupegang.
“Ini buah kiwi. Ambilah sesuka hatimu”, kataku sambil meletakkan keranjangku lalu duduk di sampingnya.
“Ryu, apa kau masih ingat”, katanya dengan mulut yang dipenuhi oleh buah kiwi.
“A-apa?”, tanyaku sambil berusaha menahan tawa.
“Saat…”

Tiba-tiba aku melihat Sora sedang duduk di sampingku. Sora.. Mengapa kau baru kembali?
Akupun langsung menariknya ke dalam pelukanku. Perlahan air mataku mengalir menahan semua kerinduan yang telah lama kusimpan.

“Ryu? Ada apa..? Uhuk uhuk” Tiba-tiba terdengar suara batuk yang cukup keras darinya. Dengan cepat aku melepaskan pelukanku dan melihat apa yang terjadi padanya. Terlihat banyak darah yang bersimbah di mulutnya. 
“Sora.. Kenapa kau Sora.. Sora?”, tanyaku ketakutan.

Tak lama kemudian ia pingsan, jatuh tak sadarkan diri.



Seperti daun yang gugur, yang tidak sempat menyampaikan pesan kepada angin”




Esok harinya…



Sora POV
 

“Ayah”, panggilku pada ayah yang sedang berdiri di depanku.
“Kenapa kau melanggar laranganku, Luna?”, kata ayah dengan wajah penuh kekecewaan.

Sejenak terbayang di benakku tentang buah  yang  kumakan pada waktu itu. Pasti buah itu yang dimaksud oleh ayah. 

“Maafkan aku ayah.. Aku..” 

Seketika ayah hilang dari pandanganku.

“Sora?”, terdengar suara Ryu dari arah belakang.

Dengan cepat aku membalikkan badanku lalu berlari menghampirinya. Tapi, saat kudekatkan pandanganku padanya seperti ada lapisan air yang membatasi kami. Ketika aku menyentuhnya tiba-tiba lapisan air tersebut pecah dan sontak aku terbangun dari mimpiku.

Ketika kubuka mataku, aku melihat Ryu sedang duduk di sampingku sambil memegang tanganku.

“Sora? Apa kau sudah sadar? Syukurlah…”, katanya dengan perasaan lega.

         Sejenak terlintas di benakku tentang perkataan ayah mengenai akibat dari larangan itu. Ketika aku kehilangan semua kekuatanku, aku akan kembali ke wujud asliku, dan saat itu juga aku akan kembali ke bulan untuk selama-lamanya.

        Seketika air mataku mengalir menahan semua ketakutan yang tersembunyi di dalam hatiku. 

“Kenapa kau menangis?”, Tanya Ryu sambil mengusap air mataku. 

Tiba-tiba datang seorang pelayan menghampiri Ryu.

“Yang Mulia, Anda diperintahkan untuk menemui Ratu di hutan sekarang”, kata pelayan itu pada Ryu.
“Bilang saja pada ibu, aku akan menemuinya nanti”
“Tidak bisa Tuan. Ratu bilang ini adalah urusan penting dan Anda di perintahkan untuk sesegera mungkin datang kesana.
“Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba ibu ingin berbicara padaku?  Sora.. Aku pergi sebentar ya”

Jangan Ryu! Jangan tinggalkan aku! Aku takut.. Aku takut jika aku tidak bisa melihatmu lagi!

“Jangan khawatir, aku akan segera kembali”, kata Ryu sambil melepaskan genggaman tanganku.


Ryu POV

        Apa? Kenapa ibu tiba-tiba menyuruhku datang kesana? Ah.. Hutan itu.. Sejak Sora pergi aku tidak pernah datang kesana lagi. Aku selalu menghindari tempat itu. Setiap melihatnya aku pasti teringat akan kekejaman Sora yang tiba-tiba pergi dari hidupku. Ya, Sora memang kejam. Dia tidak menepati janjinya padaku untuk selalu datang kesana.

Dari jauh terlihat ibu sedang duduk di samping setangkai daun talas. Ah, bukankah itu daun talas yang dulu? Sekarang, dia tampak jauh lebih besar.

“Kemarilah, Ryu”, ajak ibu sambil melambaikan tangan padaku.
“Kau masih ingat tempat ini?”, tanya ibu mengejutkanku.
“T-tidak. Aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya”, ucapku bohong.
“Hmm.. Lalu, apa kau masih ingat dengan ini?”, Tanya ibu sambil menunjukkan sebuah album foto tua dan sebuah kamera kecil padaku. Dengan rasa penasaran, akupun mengambilnya. Disana terlihat foto-foto masa kecilku dengan Sora, saat kami masih bermain barsama-sama di tempat ini.
“Da-dari mana ibu mendapatkan foto ini?”, Tanyaku penasaran.
“Ayahnya Sora yang memberikan ini pada ibu sebelum Sora turun ke  bumi. Ia ingin agar ibu menjaganya selama ada disini”
“A-apa maksudnya turun ke bumi, bu? Apa sekarang Sora ada disini?”
“Sora adalah Putri dari negeri bulan. Ia diperintahkan untuk mencari kehidupan baru di bumi. Ayahnya ingin dia menjadi lebih dewasa dengan belajar banyak hal di bumi”
“Apa? Putri bulan? Jadi, dimana ia sekarang?”
“Dia.. Sedang terbaring sakit di istana. Dia adalah pelayan pribadimu sendiri”
“A-apa?  Jadi, dia So-ra..?”

Sora… Sora yang selama ini kurindukan ternyata berada dekat denganku? Sora, maafkan aku… Bahkan aku tidak bisa mengenalimu sekalipun kau ada di sampingku. 
Seketika air mataku mengalir. Aku menangis terisak tak tertahankan. Hatiku benar-benar sakit. Ingin rasanya kubunuh diriku sendiri.

“Ryu… Sebenarnya ibu ingin mengatakan sesuatu yang selama ini ibu rahasiakan darimu”, kata ibu sambil memelukku.
“A-apa bu?, ucapku sambil terisak.
“Sebenarnya sejak kau terkena panah, kabar tentang keberadaan Putri Bulan sudah terdengar ke telinga Jenderal Kiyoto. Sejak dulu Jenderal Kiyoto sudah menyiarkan kabar yang salah tentang Putri Bulan. Ia bilang orang bulan sesungguhnya ada dan berencana ingin menguasai Bumi, padahal ibu sangat tahu bahwa itu adalah taktik Jenderal Kiyoto untuk menguasai dunia. Untuk itulah ibu selalu merahasiakan identitas Sora yang sebenarnya. Tapi semuanya sudah terlambat, Jenderal Kiyoto sudah mengetahui segalanya. Kemudian ia memberikan buah larangan kepadamu karena ia tahu kau sangat akrab dengan Sora. Ia ingin melemahkan semua kekuatan Sora lalu berencana akan membunuhnya. Dan Ryu… Ibu tidak tahu bagaimana keadaan di istana sekarang. Ibu minta tolong kepadamu, tolong lindungi Sora... Tolong selamatkan dia!”

                Dengan cepat aku berlari menuju istana. Di luar terlihat banyak mayat bergelimpangan. Semua lantai dipenuhi dengan darah. Dari arah depan, terlihat Kak Kyu sedang berusaha memerangi para pemberontak. 

“Kyu! Cepat selamatkan Sora! Ia disana!”, ucap Kak Kyu sambil menunjuk kearah ruang penghukuman. 

Dengan cepat aku berlari kesana. Dari jauh terlihat Sora sedang tergantung lemas di atas sana. Di bawahnya terlihat Jenderal Kiyoto yang sedang bersiap-siap akann membunuhnya. Dengan cepat aku berlari ke arahnya dan berusaha memerangi Jenderal Kiyoto. Jenderal Kiyoto sangat kuat, pedangku selalu berhasil di tangkisnya. Tiba-tiba tanpa sepengetahuanku pedang Jenderal Kiyoto mengarah kepadaku.

“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”, jerit Sora berusaha melepaskan semua rantai yang mengingkat di tangannya.

“Jleb” Seketika pedang yang mengarah ke arahku mengenai tubuh Sora. Dengan penuh amarah aku langsung mengarahkan pedang ke arah Jenderal Kiyoto dan berhasil membunuhnya,

“Sora… Soraaaaa!!!!!!”, teriakku saat melihat tubuh Sora dipenuhi banyak darah
“R-ryu… Ma-af-kan.. A-kuh…”
“Tidak Sora! Aku lah yang bersalah… Maafkan aku Sora… Maafkan aku tidak bisa melindungimu!”, ucapku dengan suara terisak.
“R-ryu… Am.. bil.. lah… Han.. Ya.. In.. Nih.. Yahng.. Bi.. Sa.. Ak.. ku.. Be.. Ri.. Kan..”, katanya sambil memberi sebuah kalung berlian.
“R-ryu… Aku…”, perlahan tubuh Sora mengabur membentuk bayang-bayang. Terlihat air mata yang mengalir di pipinya. Seketika Sora hilang diterbangkan oleh angin.
“SORAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”, teriakku tak tertahankan



***


Di hutan yang gelap, hanya tersisa bayang-bayang sinar rembulan. 

“R-ryu.. Ku.. Bur.. Al… Bum… Dan.. Ka.. Mera.. Kuh.. Di.. Sam.. Ping.. Da.. Un.. Tah.. Las.. Ih.. Tu.. Ji.. Ka.. Kau.. Rin.. Du.. Ah.. Kuh.. Da.. Tang.. Lah.. Ke.. Sa.. Na.. Di.. Ba.. Wah.. Cah.. Ha.. Ya.. Bu.. Lan” Kata-kata itu terus terngiang di telingaku.

                Sekarang, di tanganku sudah ada sebuah kamera kecil dan sebuah album tua milik Sora. Perlahan kugali tanah yang ada di samping setangkai daunt alas dan menguburnya disana. Seketika air mataku mengalir deras di pipiku. Aku terduduk lemas di atas rerumputan.

“Sora.. Mengapa kau pergi? Aku bahkan belum menebus semua kesalahanku padamu”, ucapku sambil memandang kearah bulan.



 Kepada Sora.. Aku akan mengatakan yang sebenarnya.. Bahwa sebenarnya aku sangat mencintaimu.. Dulu.. Dan selamanya..





Seperti daun yang gugur, yang tidak sempat menyampaikan pesan kepada angin. Di penghujung waktuku, aku bahkan tidak bisa mengatakan aku mencintaimu kepadanya…
Seperti air di atas daun talas, yang terlanjur diterbangkan oleh angin, jatuh ke tanah, teresap, hilang tak bersisa..
Aku sadar… Aku memang tidak pernah bisa menyentuhnya, bahkan dalam 5 cmpun. Aku selalu berusaha bertahan untuk tetap tinggal, tapi pada akhirnya aku tetap terjatuh. Bahkan ketika hati kami sudah mulai menyatu, kami tetap tidak bisa bersama..
Kepada Ryu… Walaupun aku sudah tidak berada di sini lagi.. Aku tetap tinggal, di hatimu, dan di bawah cahaya rembulan. Aku mencintaimu Ryu.. Bahkan untuk seribu tahun lebih”


-          The End     -


Princess Moon Shoot 2 Part 2 - End

Tidak ada komentar:

Posting Komentar