Tittle : Princess Moon
Genre : Fantasy, sad
Rating :
13+
Leght : Two shoot
Cast :
- Sora a.k.a Luna
- Ryu
- Sena
- Kyu
Disclamer :
Ini adalah bagian akhir dari FF-ku. Seperti kata pepatah, tiada gading
yang tak retak, maafkan aku jika sekiranya FF ini jauh dari kesempurnaan.
Kepada pihak yang ikut terlibat, aku mengucapkan banyak terima kasih. Setelah
FF ini selesai, aku akan mengubur semua kenanganku yang telah menjadi bagian
dari masa laluku.
^^Happy
Rading^^
Ryu
POV
“Sena.. Sena.. Kau kah itu?”, panggilku dari kejauhan.
Itu seperti Sena. Ah.. Sena.. Semuanya
telah berakhir. Maafkan aku karena telah mengecewakanmu, Sena.
“Ryu? Kau mendengarku? Ayo, kemarilah Ryu”
Dengan cepat aku berjalan kearah Sena.
Tapi… Siapa itu? Itu bukan Sena! Itu.. Sora…? Orang yang menghilang dariku
selama ini. Tapi, mengapa ia menatapku seperti itu? Mengapa ia menangis?
“So-Sora!”, panggilku.
Dengan cepat aku berlari ke arahnya. Tapi
seketika Sora hilang begitu saja.
Perlahan kubuka
mataku. Kulihat Sora, ah tidak maksudku wanita jelek yang juga bernama Sora itu
duduk disampingku.
“Tuan? Apa kau sudah sadar? Kau pasti lapar
kan? Sebentar, aku bawakan makanannya dulu”, katanya lalu bergegas pergi ke
dapur.
Selintas terbayang di benakku tentang
kejadian di taman pada waktu itu. Tak lama kemudian si buruk rupa itu datang
dengan membawa segelas susu hangat dan sepotong roti cokelat.
“Ini.. Makan..”
“AAAA!! Jangan menyentuhku! Kau sudah
menggagalkan semuanya! Kau tahu jika butuh waktu berbulan-bulan untuk
menyembuhkan luka ini! Pergi dari sini! Aku tidak ingin melihatmu lagi!”,
teriakku sambil membuang semua makanan yang ia berikan padaku.
“Prang”, semua pecahan gelas dan piring
berserakan di lantai.
Dia hanya duduk terdiam. Terlihat air mata
mengalir dipipinya dan menetes ke lantai.
“Aku tahu jika aku salah. Aku benar-benar
minta maaf. Tapi, tidak seharusnya kau membuang makanan itu! Kau tahu?! Demi
sepotong roti aku dan para pelayan lainnya harus bekerja keras melayanimu dan
keluarga istana! Kau kejam! Apa seperti ini seorang Pangeran?!”, ucapnya sambil
terisak.
Dengan cepat ia berlari pergi dari kamarku.
“Kau kejam! Apa seperti ini seorang
Pangeran?!” kata-kata itu terus terngiang di telingaku.
Sora
POV
“Hiks.. Apa harus dia sekasar itu padaku?
Hiks”, ucapku sambil terisak.
Selintas terbayang di benakku tentang
rekaman masa lalu saat aku masih suka bersikap seenaknya pada para pelayanku.
Begitu menyakitkan rasanya.
“Pasti begini juga yang mereka rasakan”
Aku benar-benar kejam telah membuat semua
pelayanku kabur dari istana.
Ayah, maafkan aku..
“Miaw”, tiba-tiba datang seekor kucing
berjalan terhuyung-huyung ke arahku. Terlihat banyak darah yang melumuri
tubuhnya. Ini kucing yang kulihat pertama kali saat aku turun ke bumi, kan?
Mengapa ia bisa jadi seperti ini?
Tiba-tiba kucing itu jatuh tersungkur ke
tanah. Dengan cepat aku menghampirinya.
“Kasihan sekali kucing ini”, kataku sambil
mengusap tubuhnya.
Ayah… Maafkan aku.. Tapi untuk kali ini aku
harus menggunakan kekuatanku.
Kuletakkan telapak tanganku di atas tubuh
kucing itu. Perlahan, energi yang ada di dalam tubuhku keluar melalui tanganku.
Satu persatu luka di tubuh kucing itu menghilang dan kembali seperti semula.
“Miaw”, kata kucing itu sambil berusaha
bangun.
Dengan gembira, Ia pun menjilat tanganku.
“Kau mau berterima kasih ya? Hihihi”,
ucapku sambil mengelus kucing tersebut.
Tiba-tiba terlihat pancaran cahaya keluar
dari tubuhku. Perlahan kulit kasarku berubah
menjadi halus seperti semula.
“Ayah, inikah yang kau maksud? Terimakasih
ayah”, kataku sambil menatap ke arah langit.
3
bulan kemudian…
Ryu
POV
3
hari lagi adalah hari pernikahanku dengan Sena. Entah mengapa, Sena sedikit
berubah beberapa hari ini. Tapi, sudahlah..
Aku tidak mau memikirkan hal yang macam-macam. Aku hanya akan fokus pada
pernikahanku 3 hari lagi.
Di
jalan yang kulalui ini, tergambar jelas kejadian 3 bulan lalu di hari
pernikahan aku dan Sena. Tapi semuanya gagal dan harus diundur sampai lukaku
sembuh. Pada waktu itu aku masih ingat saat bahuku tertancap busur panah karena
berusaha untuk menyelamatkan wanita jelek yang
sedang ada di sebelahku ini. Saat itu aku benar-benar kesal padanya.
Tapi, ya sudahlah.. Karenanya jugalah aku bisa sedikit berubah. Ia
mengajarkanku tentang arti tanggung jawab.
“Tuan.. Kudengar beberapa bulan ini kau
sibuk membagikan makanan kepada rakyat miskin di pasar? Lalu, apa kau juga yang
membagikan makanan padaku dan para pelayan lainnya?”, Tanya wanita jelek itu
padaku.
Hah? Dari mana dia tahu tentang itu? Tidak!
Dia tidak boleh tahu jika sebenarnya dialah yang telah merubah semua
pandanganku.
“E.. Ti.. Dak.. Aiss!! Kau berlebihan! Aku
hanya memberi makanan murah kok. Itu sangat mudah bagiku”
“Iya.. Tapi makanan ini tetap terlihat
mahal di mata para rakyat miskin itu.. Hmm.. Apapun, terimakasih ya..”, katanya
sambil tersenyum.
Senyuman ini.. “Dag.. Dig… Dug..” Kenapa
jantungku? Tidak! Tidak mungkin!
“Ah.. Sudahlah! Aku mau pergi. Terserah kau
mau ikut atau tidak”, kataku lalu bergegas pergi darinya.
“Iya.. Aku ikut Tuan!”, katanya lalu
bergegas menyusulku.
Di
tengah perjalanan, aku melihat suatu tempat yang belum pernah kudatangi
sebelumnya. Entah mengapa, hatiku seperti menyuruhku untuk masuk ke dalam sana.
Indah sekali… Aku belum pernah melihat
tempat seindah ini.. Dan.. Apa yang terlihat di depan mataku?
Kak Kyu dan Sena, berciuman?
Tiba-tiba Sora berdiri di depanku dan
menutup semua pandanganku.
“Ayo kita pulang, Tuan”, katanya sambil
memegang tanganku.
“Tidak! Aku tidak mau!”, Teriakku sambil
menghempaskan tangan Sora.
Dengan penuh amarah aku menghampiri mereka
berdua.
“Ryu… Ini tidak seperti yang kau
bayangkan”, Elak kak Kyu berusaha memberi pengertian padaku.
“AAAAA!!!! Apa.. Apa maksud semua ini kak?
Ayo! Jelaskan padaku!!!”, teriakku padanya.
“Ryu..”, kata Sena dengan perasaan
bersalah.
“AAA!!! Jangan sentuh aku! Kak, kenapa kau
tega melakukan ini semua padaku? Apa salahku padamu? Aku bahkan sudah
menganggapmu sebagai kakak kandungku sendiri”, ucapku sambil terisak.
“Maafkan aku, Ryu.. Aku terlambat
mengatakan semuanya padamu”
“Maaf? Kau bilang maaf? Kau pikir dengan
kata maaf semua lukaku akan hilang begitu saja, hah? Tidak! Sampai kapanpun aku
tidak akan memaafkan kalian!”
Dengan cepat aku pergi meninggalkan mereka.
Dasar penghianat! Aku tidak akan memaafkan
kalian!
Langkahku terhenti saat kulihat sepasang
kaki menghalangi jalanku.
“Ryu”, ucap Sora lalu memelukku.
“Dag.. Dig.. Dug..” Kenapa jantungku
tiba-tiba jadi begini? Tidak! Tidak mungkin! Tidak bisa!
“Jangan sentuh aku! Pergi dari hadapanku!”,
kataku sambil mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
Perlahan ia mulai menangis dan terisak.
Apa aku terlalu kasar padanya? Kenapa
rasanya sampai seperti ini?
“Ryu.. Aku pikir kau sudah kembali seperti
Ryu yang dulu. Ternyata tidak! Kau bahkan tidak pernah melihatku meskipun aku
selalu berada di dekatmu!”
Dengan penuh kekecewaan, Sora pergi
meninggalkan diriku yang masih terdiam tanpa bisa berkata apapun.
“Tidak.. Kau salah.. Aku melihatmu, hanya
saja aku tidak mengakuinya”, jawabku di dalam hati.
1
tahun kemudian
Sora
POV
Hari
ini seperti biasa setelah mendapat
sepotong roti aku pergi ke hutan lalu duduk di samping setangkai daun talas.
Walaupun setiap hari selalu datang kesini sekalipun aku tidak pernah melihat
Ryu ada disini. Apa dia sudah benar-benar lupa dengan semuanya ya?
Tak
terasa sudah satu tahun lebih aku berada di bumi. Selama setahun ini, aku telah
belajar banyak tentang arti ketulusan dan rasa tanggung jawab. Sekarang aku
sudah terbiasa untuk selalu rajin bekerja dan tidak membuang makanan. Mungkin
saat ini dari langit ayah sedang tersenyum melihat perubahanku. Ya, pasti ayah
bangga padaku.
Dari
kejauhan terlihat seorang anak kecil dengan langkah takut berjalan ke arahku.
Pasti dia anak kecil yang waktu itu menangis karenaku. Saat melihatku berdiri,
tiba-tiba anaik itu berbalik badan dan melangkah pergi. Dengan cepat aku
berlari mengejar anak tersebut.
“Permisi”, panggilku.
Dengan penuh ketakutan anak itu membalikkan
badannya lalu melihatku.
“Apa kau mencariku? Ada apa?”, tanyaku
penasaran.
“Itu”, ucapnya sambil menunjuk kearah
sepotong roti yang ada di tanganku.
Bagaimana ini?Jika aku memberi roti itu
padanya, berarti aku tidak bisa makan hari ini. Tapi, dia terlihat kurus
sekali. Dia pasti lebih membutuhkan ini dari pada aku.
“Kau ingin roti ini? Ambilah”, kataku
sambil memberi sepotong roti ke arahnya.
“B-benarkah? Terimakasih!”, ucapnya dengan
wajah penuh kegembiraan.
Dengan cepat ia berlari, dari arah kejauhan
ia melambaikan tangan padaku.
“Sama-sama”, ucapku sambil membalas
lambaian tangannya.
Tak
lama kemudian, terlihat pancaran cahaya memancar dari tubuhku. Perlahan
rambutku yang kusut berubah menjadi halus seperti semula. Sekarang,
penampilanku terlihat hampir sempurna seperti dulu.
Kepada ayah.. Terimakasih..
@Istana
“Huh, capeknya..”, ucapku sambil duduk di tepi lantai.
Seperti
biasa setiap sore aku bertugas menyapu di halaman belakang. Cukup meletihkan
memang, tapi setidaknya aku bisa bebas melakukan apapun disini.
Setiap
selesai menyapu, pandanganku pasti mengarah pada sebuah gudang yang ada di
depan sana. Aku selalu penasaran dan ingin melihat sesuatu yang ada di
dalamnya. Tapi, setiap aku bertanya tentang itu pada Ibu Kepala Pelayan, dia
pasti memarahiku dan melarangku untuk masuk ke dalam sana.
Rasa
penasaranku memberiku keberanian untuk masuk ke dalam gudang. Perlahan kubuka
pintunya. Wah.. Disini banyak sekali
barang-barang istana. Dan.. Ini.. Ini biola yang waktu itu Ryu mainkan, kan?
Mengapa ia tidak pernah memainkannya lagi? Padahal aku selalu merindukan alunan
lembut itu. Bagiku, itu adalah alunan paling indah yang pernah aku dengar.
Mataku
beralih pada sebuah Harpa tua yang tergeletak di depanku. Aku sangat ingat,
dulu saat aku masih berada di bulan aku sering sekali memainkannya di waktu
renggangku. Dengan hati-hati kuangkat harpa tersebut dan mulai memainkannya.
Ryu POV
“Capeeek”, keluhku di dalam hati.
Hari
ini memang cukup menyibukkan bagiku. Sepanjang siang aku hanya sibuk menyambut
orang-orang dari luar negeri yang berkunjung ke negara kami. Tapi, bagaimana
kalau mereka mencariku lagi? Tidak! Aku harus kabur! Ke tempat yang jauh dari
keramaian! Aha! Di halaman belakang!
Dengan
cepat aku berjalan menuju halaman belakang istana. Dari jauh terdengar alunan
music yang sangat indah.
“Siapa yang memainkannya?”, tanyaku dalam
hati.
Firasatku menuntuku kearah gudang. Perlahan
kubuka pintunya. Dari jauh terlihat seorang wanita cantik sedang duduk di atas
kursi sambil memetik senar-senar harpa. Tapi, bukankah wanita cantik itu Sora?
Ah, tidak, maksudku si buruk rupa itu? Bagaimana bisa dia berubah menjadi
seperti itu?
“Dag.. Dig.. Dug…” Tiba-tiba jantungku
berdetak tak beraturan. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku harus pergi!
Sora POV
Perlahan
kumainkan harpa yang ada di tanganku. Jari-jariku menari mengikuti alur, membentuk
alunan lembut. Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang langkahnya terhenti di
depan pintu. Sepertinya dia Ryu. Ketika kuhentikan permainanku, dia langsung
berbalik badan dan pergi meninggalkan gudang. Dengan cepat aku berlari
menghampirinya.
“Ryu?”, panggilku.
Iapun berhenti.
“Ada apa? Kau mencariku?”
“T-tidak”
“Lalu, kalau bukan mencariku untuk apa kau
kemari?”
“Sudahlah! Jangan bermimpi! Aku tidak mungkin
mencarimu!”, ucapnya lalu pergi meninggalkanku.
Aneh… Sejak kejadian itu dia seperti ingin
menjauhkan diri dariku. Ryu? Ada apa? Apa kau begitu membenciku? Apa kau tidak
ingin melihatku ada disini lagi?”
Esok
harinya….
Sena
POV
Angin
sore menyapu dedaunan di jalan, memberi hawa sejuk di tengah panas terik matahari.
“Tumbuhlah wahai bunga-bungaku yang
cantik”, kataku sambil menyiram bunga-bunga yang ada di halaman depan rumahku.
“Sena!”, panggil ayah dari kejauhan.
Akupun menghentikan pekerjaanku lalu
berlari menemui ayah.
“Iya, ada apa ayah?”
“Tolong antarkan buah kiwi ini ke istana.
Ingat, kau harus memberikannya langsung kepada Pangeran, mengerti?”
“Tapi ayah…”
“Jangan banyak alasan! Bukankah kau sudah
menggagalkan semua rencana ayah untuk menikahkanmu dengan Pangeran? Sampai kapan
kau harus terus menentang ayah? Cepat! Turuti saja apa kata ayah!”
Ayah,
mengapa kau menyuruhku mengantarkan ini pada Ryu? Tak tahukah kau betapa
malunya aku padanya? Tapi, jika aku menolak, ayah pasti akan kecewa lagi
padaku.
“Baiklah”, ucapku terpaksa.
Dengan sedikit rasa takut aku berjalan
menuju istana.
“Tuan.. Tolong katakan pada Pangeran Ryu
jika aku ingin berbicara padanya”, kataku pada
salah satu penjaga istana.
Tak lama kemudian Ryu datang dengan
ekspresi wajah kesal. Mungkin dia masih marah denganku. Aku mengerti, siapapun
pasti akan marah jika cintanya dihianati. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku juga
tidak bisa terus berbohong pada Ryu jika sebenarnya aku hanya mencintai Kak
Kyu.
“Ada apa?”, tanya Ryu dengan wajah sebal.
“Ayah menyuruhku memberikan ini padamu”,
kataku sambil memberi sekeranjang buah kiwi padanya.
Dia terdiam sejenak. Perlahan, ekspresinya
berubah menjadi lebih santai.
“Ryu.. Maaf..”, kataku dengan penuh
perasaan bersalah.
“Sudahlah.. Aku tidak ingin mengingatnya
lagi. Jangan meminta maaf, ini juga salahku karena tidak pernah bertanya padamu
tentang perasaanmu”, katanya sambil mengambil sekeranjang buah kiwi yang
kuberikan.
“Hmm.. Ryu.. Terimakasih”, kataku sambil
tersenyum.
Ryu..
Terima kasih karena telah memaafkanku. Terimakasih karena tidak membenciku. Aku
pasti akan menebus kesalahanku suatu saat nanti.
Ryu
POV
Setelah
menerima sekeranjang buah kiwi dari Sena, aku berjalan menuju ke taman di depan
istana. Selintas terbayang di benakku saat Kyu dan Sena berciuman di depan
mataku sendiri. Cukup menyakitkan memang, tapi ya sudahlah.. Mungkin sejak
waktu itu Tuhan telah memberitahuku bahwa sebenarnya aku dan Sena memang tidak
ditakdirkan bersama. Ini semua karena si buruk rupa itu.Karenanya aku bisa
bersikap lebih sabar dan ikhlas atas semua yang terjadi pada diriku.
Dari
jarak yang tidak begitu jauh aku melihat wanita jelek itu sedang duduk santai
sambil menyelonjorkan kaki.
“Dag.. Dig.. Dug..” Tiba-tiba jantungku
berdetak tidak beraturan lagi. Dengan cepat aku melangkahkan kaki untuk pergi
dari sini.
“Ryu”, panggilnya saat melihatku bergegas
pergi.
Tanpa menghiraukan panggilannya aku mulai
melangkahkan kakiku lagi.
“Ryu?! Sampai kapan kau harus menjauhiku
seperti ini?!”, katanya dengan suara sedikit terisak.
“Apa urusanmu?! Apa yang kulakukan itu
terserahku!”, kataku lalu bergegas pergi meninggalkannya.
Saat aku berjalan, tiba-tiba ada sesuatu yang
menyandung kakiku.
“Tolong, jangan jauhi aku seperti ini”,
katanya sambil membantuku untuk berdiri.
“Kenapa?! Kenapa kau menolongku?! Pukul saja
aku! Bukankah aku selalu bersikap buruk
padamu?! Mengapa?! Mengapa kau tetap bersikap baik padaku?! Kenapa tidak pernah
sekalipun kau marah padaku?!”, teriakku sambil melepaskan genggaman tangannya.
“Karena aku bahagia saat bersama Ryu”, katanya
sambil tersenyum padaku.
Perlahan
air mata menetes ke pipiku. Dengan cepat aku mengusap air mataku san berusaha
menutupinya.
“Ryu? Buah apa itu? Boleh aku minta satu?”,
katanya lalu mengambil satu buah kiwi di keranjang yang kupegang.
“Ini buah kiwi. Ambilah sesuka hatimu”, kataku
sambil meletakkan keranjangku lalu duduk di sampingnya.
“Ryu, apa kau masih ingat”, katanya dengan
mulut yang dipenuhi oleh buah kiwi.
“A-apa?”, tanyaku sambil berusaha menahan
tawa.
“Saat…”
Tiba-tiba aku melihat Sora sedang duduk di
sampingku. Sora.. Mengapa kau baru kembali?
Akupun langsung menariknya ke dalam pelukanku.
Perlahan air mataku mengalir menahan semua kerinduan yang telah lama kusimpan.
“Ryu? Ada apa..? Uhuk uhuk” Tiba-tiba
terdengar suara batuk yang cukup keras darinya. Dengan cepat aku melepaskan
pelukanku dan melihat apa yang terjadi padanya. Terlihat banyak darah yang
bersimbah di mulutnya.
“Sora.. Kenapa kau Sora.. Sora?”, tanyaku
ketakutan.
Tak lama kemudian ia pingsan, jatuh tak
sadarkan diri.
“Seperti daun yang gugur, yang tidak sempat
menyampaikan pesan kepada angin”
Esok
harinya…
Sora POV
“Ayah”, panggilku pada ayah yang sedang
berdiri di depanku.
“Kenapa
kau melanggar laranganku, Luna?”, kata ayah dengan wajah penuh kekecewaan.
Sejenak
terbayang di benakku tentang buah
yang kumakan pada waktu itu.
Pasti buah itu yang dimaksud oleh ayah.
“Maafkan
aku ayah.. Aku..”
Seketika
ayah hilang dari pandanganku.
“Sora?”,
terdengar suara Ryu dari arah belakang.
Dengan
cepat aku membalikkan badanku lalu berlari menghampirinya. Tapi, saat
kudekatkan pandanganku padanya seperti ada lapisan air yang membatasi kami.
Ketika aku menyentuhnya tiba-tiba lapisan air tersebut pecah dan sontak aku
terbangun dari mimpiku.
Ketika
kubuka mataku, aku melihat Ryu sedang duduk di sampingku sambil memegang
tanganku.
“Sora? Apa
kau sudah sadar? Syukurlah…”, katanya dengan perasaan lega.
Sejenak terlintas di benakku tentang
perkataan ayah mengenai akibat dari larangan itu. Ketika aku kehilangan semua
kekuatanku, aku akan kembali ke wujud asliku, dan saat itu juga aku akan
kembali ke bulan untuk selama-lamanya.
Seketika air mataku mengalir menahan
semua ketakutan yang tersembunyi di dalam hatiku.
“Kenapa
kau menangis?”, Tanya Ryu sambil mengusap air mataku.
Tiba-tiba datang
seorang pelayan menghampiri Ryu.
“Yang
Mulia, Anda diperintahkan untuk menemui Ratu di hutan sekarang”, kata pelayan
itu pada Ryu.
“Bilang
saja pada ibu, aku akan menemuinya nanti”
“Tidak
bisa Tuan. Ratu bilang ini adalah urusan penting dan Anda di perintahkan untuk
sesegera mungkin datang kesana.
“Ada apa
ini? Kenapa tiba-tiba ibu ingin berbicara padaku? Sora.. Aku pergi sebentar ya”
Jangan
Ryu! Jangan tinggalkan aku! Aku takut.. Aku takut jika aku tidak bisa melihatmu
lagi!
“Jangan
khawatir, aku akan segera kembali”, kata Ryu sambil melepaskan genggaman
tanganku.
Ryu POV
Apa? Kenapa ibu tiba-tiba menyuruhku datang
kesana? Ah.. Hutan itu.. Sejak Sora pergi aku tidak pernah datang kesana lagi.
Aku selalu menghindari tempat itu. Setiap melihatnya aku pasti teringat akan
kekejaman Sora yang tiba-tiba pergi dari hidupku. Ya, Sora memang kejam. Dia
tidak menepati janjinya padaku untuk selalu datang kesana.
Dari jauh
terlihat ibu sedang duduk di samping setangkai daun talas. Ah, bukankah itu daun
talas yang dulu? Sekarang, dia tampak jauh lebih besar.
“Kemarilah,
Ryu”, ajak ibu sambil melambaikan tangan padaku.
“Kau masih
ingat tempat ini?”, tanya ibu mengejutkanku.
“T-tidak.
Aku tidak pernah melihat tempat ini sebelumnya”, ucapku bohong.
“Hmm..
Lalu, apa kau masih ingat dengan ini?”, Tanya ibu sambil menunjukkan sebuah
album foto tua dan sebuah kamera kecil padaku. Dengan rasa penasaran, akupun
mengambilnya. Disana terlihat foto-foto masa kecilku dengan Sora, saat kami
masih bermain barsama-sama di tempat ini.
“Da-dari mana ibu mendapatkan foto ini?”,
Tanyaku penasaran.
“Ayahnya Sora yang memberikan ini pada ibu
sebelum Sora turun ke bumi. Ia ingin
agar ibu menjaganya selama ada disini”
“A-apa maksudnya turun ke bumi, bu? Apa
sekarang Sora ada disini?”
“Sora adalah Putri dari negeri bulan. Ia
diperintahkan untuk mencari kehidupan baru di bumi. Ayahnya ingin dia menjadi
lebih dewasa dengan belajar banyak hal di bumi”
“Apa? Putri bulan? Jadi, dimana ia sekarang?”
“Dia.. Sedang terbaring sakit di istana. Dia
adalah pelayan pribadimu sendiri”
“A-apa?
Jadi, dia So-ra..?”
Sora… Sora yang selama ini kurindukan ternyata
berada dekat denganku? Sora, maafkan aku… Bahkan aku tidak bisa mengenalimu
sekalipun kau ada di sampingku.
Seketika air mataku mengalir. Aku menangis
terisak tak tertahankan. Hatiku benar-benar sakit. Ingin rasanya kubunuh diriku
sendiri.
“Ryu… Sebenarnya ibu ingin mengatakan sesuatu
yang selama ini ibu rahasiakan darimu”, kata ibu sambil memelukku.
“A-apa bu?, ucapku sambil terisak.
“Sebenarnya sejak kau terkena panah, kabar
tentang keberadaan Putri Bulan sudah terdengar ke telinga Jenderal Kiyoto.
Sejak dulu Jenderal Kiyoto sudah menyiarkan kabar yang salah tentang Putri Bulan.
Ia bilang orang bulan sesungguhnya ada dan berencana ingin menguasai Bumi,
padahal ibu sangat tahu bahwa itu adalah taktik Jenderal Kiyoto untuk menguasai
dunia. Untuk itulah ibu selalu merahasiakan identitas Sora yang sebenarnya.
Tapi semuanya sudah terlambat, Jenderal Kiyoto sudah mengetahui segalanya.
Kemudian ia memberikan buah larangan kepadamu karena ia tahu kau sangat akrab
dengan Sora. Ia ingin melemahkan semua kekuatan Sora lalu berencana akan
membunuhnya. Dan Ryu… Ibu tidak tahu bagaimana keadaan di istana sekarang. Ibu
minta tolong kepadamu, tolong lindungi Sora... Tolong selamatkan dia!”
Dengan
cepat aku berlari menuju istana. Di luar terlihat banyak mayat bergelimpangan.
Semua lantai dipenuhi dengan darah. Dari arah depan, terlihat Kak Kyu sedang
berusaha memerangi para pemberontak.
“Kyu! Cepat selamatkan Sora! Ia disana!”, ucap
Kak Kyu sambil menunjuk kearah ruang penghukuman.
Dengan
cepat aku berlari kesana. Dari jauh terlihat Sora sedang tergantung lemas di
atas sana. Di bawahnya terlihat Jenderal Kiyoto yang sedang bersiap-siap akann
membunuhnya. Dengan cepat aku berlari ke arahnya dan berusaha memerangi
Jenderal Kiyoto. Jenderal Kiyoto sangat kuat, pedangku selalu berhasil di
tangkisnya. Tiba-tiba tanpa sepengetahuanku pedang Jenderal Kiyoto mengarah
kepadaku.
“HYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”,
jerit Sora berusaha melepaskan semua rantai yang mengingkat di tangannya.
“Jleb” Seketika pedang yang mengarah ke arahku
mengenai tubuh Sora. Dengan penuh amarah aku langsung mengarahkan pedang ke
arah Jenderal Kiyoto dan berhasil membunuhnya,
“Sora… Soraaaaa!!!!!!”, teriakku saat melihat
tubuh Sora dipenuhi banyak darah
“R-ryu… Ma-af-kan.. A-kuh…”
“Tidak Sora! Aku lah yang bersalah… Maafkan
aku Sora… Maafkan aku tidak bisa melindungimu!”, ucapku dengan suara terisak.
“R-ryu… Am.. bil.. lah… Han.. Ya.. In.. Nih..
Yahng.. Bi.. Sa.. Ak.. ku.. Be.. Ri.. Kan..”, katanya sambil memberi sebuah
kalung berlian.
“R-ryu… Aku…”, perlahan tubuh Sora mengabur
membentuk bayang-bayang. Terlihat air mata yang mengalir di pipinya. Seketika
Sora hilang diterbangkan oleh angin.
“SORAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!”, teriakku tak
tertahankan
***
Di
hutan yang gelap, hanya tersisa bayang-bayang sinar rembulan.
“R-ryu.. Ku.. Bur.. Al… Bum… Dan.. Ka.. Mera..
Kuh.. Di.. Sam.. Ping.. Da.. Un.. Tah.. Las.. Ih.. Tu.. Ji.. Ka.. Kau.. Rin..
Du.. Ah.. Kuh.. Da.. Tang.. Lah.. Ke.. Sa.. Na.. Di.. Ba.. Wah.. Cah.. Ha..
Ya.. Bu.. Lan” Kata-kata itu terus terngiang di telingaku.
Sekarang,
di tanganku sudah ada sebuah kamera kecil dan sebuah album tua milik Sora.
Perlahan kugali tanah yang ada di samping setangkai daunt alas dan menguburnya
disana. Seketika air mataku mengalir deras di pipiku. Aku terduduk lemas di
atas rerumputan.
“Sora.. Mengapa kau pergi? Aku bahkan belum menebus
semua kesalahanku padamu”, ucapku sambil memandang kearah bulan.
Kepada Sora.. Aku akan mengatakan yang
sebenarnya.. Bahwa sebenarnya aku sangat mencintaimu.. Dulu.. Dan selamanya..
“Seperti daun yang gugur, yang tidak sempat
menyampaikan pesan kepada angin. Di penghujung waktuku, aku bahkan tidak bisa
mengatakan aku mencintaimu kepadanya…
Seperti air di atas daun talas, yang terlanjur diterbangkan oleh
angin, jatuh ke tanah, teresap, hilang tak bersisa..
Aku sadar… Aku memang tidak pernah bisa menyentuhnya, bahkan dalam
5 cmpun. Aku selalu berusaha bertahan untuk tetap tinggal, tapi pada akhirnya
aku tetap terjatuh. Bahkan ketika hati kami sudah mulai menyatu, kami tetap
tidak bisa bersama..
Kepada Ryu… Walaupun aku sudah tidak berada di sini lagi.. Aku
tetap tinggal, di hatimu, dan di bawah cahaya rembulan. Aku mencintaimu Ryu.. Bahkan
untuk seribu tahun lebih”
-
The
End -
Princess
Moon Shoot 2 Part 2 - End
